KOLOM: Untuk Mereka yang Setia Membangun Angan

Kagok Edan Juara Sakalian!Ujar-ujar dari tanah Pasundan itu serasa cocok untuk menggambarkan perjalanan Liverpool FC di Liga Champions musim 2017-18 ini.  Selain tentunya kita sebagai suporter, tak banyak yang meyakini perjalanan The Reds bisa sampai pada partai final yang akan digelar di Stadion NSC Olimpiysky, Kiev, beberapa jam lagi.

Kita tentu mahfum meski sudah mengoleksi lima trofi, partisipasi di Liga Champions tahun ini merupakan kali pertama sejak akhir tragis dua musim silam. Berdasarkan pengalaman pahit itu, tak sedikit yang merasa perjalanan Liverpool untuk kembali masuk jajaran elite Eropa membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Sedikit kilas balik, petualangan The Reds kembali ke habitatnya memang tak langsung mulus. Tidak pernah menang dalam dua laga awal versus Sevilla dan Spartak Moskva di fase grup jadi penyebabnya. Belum lagi faktor non-teknis seperti drama kepindahan Philippe Coutinho yang berlarut dan cukup memengaruhi pakem starting eleven Liverpool di awal musim.

Meski lolos ke fase gugur dengan cukup meyakinkan -dua diantaranya menang lewat tujuh gol ke gawang NK Maribor dan Spartak- Mohamed Salah dan kawan-kawan bukanlah kandidat kuat juara. Di sana masih bercokol nama Bayern Muenchen, Juventus, Paris Saint-Germain, FC Barcelona, dan lawan di final, Real Madrid. Bahkan kaliber Manchester City saja, Liverpool disebut tak memiliki peluang lebih besar.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Man. City jadi lawan The Reds selanjutnya setelah menumpaskan jawara Liga Portugal, FC Porto. Sempat diprediksi akan jadi akhir dari perjalanan di Liga Champions musim ini, Liverpool melangkah gagah ke semifinal lewat kemenangan baik di kandang maupun tandang.

UNTUK SEBUAH ANGAN

Optimisme membuncah seantero universesuporter Liverpool dan membuat seseorang, sebut saja namanya Mulyadi Wantutri, dengan sangat yakin untuk segera mencari dan memesan tiket menuju Kiev, ibukota Ukraina tempat berlangsungnya partai final Liga Champions musim ini. Padahal, anak asuh Juergen Klopp masih harus menghadapi AS Roma yang pada babak sebelumnya secara mengejutkan menjungkalkan Barcelona.

Beliau melalui tulisannya di Pandit Footballmeyakini bahwa sejarah pasti akan berulang, meski bentuknya tak selamanya sama. Sejarah yang dimaksud yakni kesamaan perjalanan Liverpool kali ini dengan musim 2004-05 saat Steven Gerrard sukses mencium trofi Liga Champions kelima bagi klub.

Mulai kekalahan 1-2 dari Manchester United di liga yang diwarnai bracedan gol bunuh diri lawan, fakta The Reds menghadapi tim Inggris di perempat final dan delegasi dari Italia pada semifinal Liga Champions, hingga calon lawan di final yang mengenakan kostum berwarna putih. Dan semua kepercayaan itu terwujud, setidaknya hingga saat ini.

Mulyadi tidak sendiri. Dialektika uniknya juga karib kita jumpai di linimasa suporter Liverpool, dalam dan luar negeri. Meski dunia Barat lebih dikenal mengedepankan sains dan tabu akan hal mistis, tetapi dialektika terkadang jadi jembatan fantasi untuk lebih mengembangkan angan.

Belakangan muncul teori konspirasi atau apalah namanya, dengan mengaitkan peristiwa-peristiwa yang terjadi saat Liverpool mengangkat Si Kuping Besar -julukan trofi Liga Champions, pada 1981 silam dengan yang kembali berlangsung saat ini. Mulai dari pernikahan keluarga Kerajaan Inggris, keberhasilan Eintracht Frankfurt juara DFB-Pokal, kesuksesan tim asal London jawara Piala FA, sampai pada terpilihnya kembali Tun Dr. Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Jadi jangan heran jika keyakinan tinggi terkadang menghasilkan angan yang kian bercabang. Tak apa. Toh mungkin memang sudah saatnya.

(Foto Mulyadi)

(Caption: Mulyadi (kanan), beserta rekannya Fadel di Kiev, Ukraina. Credit: Mulyadi)

 

TAK SEKADAR TROFI

Waktu 13 tahun sejak terakhir kali berjaya di Liga Champions rasanya sudah cukup untuk disimpan dan diperbarui dengan memori indah baru dinihari nanti, sekaligus jadi pembuktian bahwa Liverpool, klub yang disebut suporter rival lebih terkenal kisah sejarahnya, siap kembali jadi kekuatan elite Eropa. Pembuktian Liverpool sendiri bukan sekadar melihat Jordan Henderson mengangkat tinggi trofi dengan latar belakang langit indah Kiev, tetapi lebih kepada apresiasi terhadap perubahan dan perjuangan yang dilalui masing-masing individu hingga pada fase ini.

Phil McNulty melalui tulisannya di BBCmenyatakan, perubahan besar yang terjadi di Liverpool saat ini diyakini terjadi tepat setelah laga melawan Real Madrid, 4 November 2014 silam. Era nyaris juara Brendan Rodgers mulai mencapai akhirnya saat The Reds tak berkutik di kandang Los Blancos pada fase grup B Liga Champions 2014-15. Keputusan berani manajer asal Irlandia Utara itu yang memasang trio penyerang Lazar Markovic – Fabio Borini – dan Adam Lallana, serta mencadangkan kapten Steven Gerrard menuai kritikan tajam hingga akhirnya dia lengser setahun kemudian.

Hingga akhirnya Liverpool ditangani Juergen Klopp hingga saat ini. Pelan tapi pasti, juru taktik berkebangsaan Jerman itu membawa The Reds ke tempat yang semestinya. Namun, satu yang kerap jadi momok Klopp dan kini bakal segera dihadapinya: Pertandingan final.

Tak pelak, laga versus Madrid ini akan jadi pembuktiannya setelah lima partai puncaknya berakhir dengan kekalahan, termasuk di final Liga Champions 2012-13 dan dua kali bersama Liverpool. Tidak hanya Klopp, kemenangan malam nanti juga akan menggenapi perjuangan masing-masing pemainnya.

Seperti misalnya Loris Karius yang sempat dikritik pada awal kariernya di Liverpool, Andy Robertson yang beberapa tahun lalu masih berstatus pemain dari klub amatir, Trent Alexander-Arnold yang menjelma dari bocah akademi menjadi salah satu fullbackterbaik Inggris, hingga Dejan Lovren dan Jordan Henderson yang kerap diragukan kapasitasnya. Tak terkecuali trio lini depan yang tersohor.

Utamanya Mo Salah. Dikenal sebagai Chelsea rejectsejak awal kedatangannya ke Anfield, trofi Liga Champions akan terasa sangat manis baginya untuk jadi pembuktian kepada semua pihak yang sempat meragukannya. Bahkan, Salah bisa jadi pembuktian, bahwa gelar Pemain Terbaik Dunia nanti tak sekadar dua nama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi saja.

Mungkin kita bisa sedikit belajar dari Kiev. Setelah diterpa konflik dan tragedi demi tragedi, Kiev bisa selalu bangkit membuktikan diri jadi kota yang indah dan nyaman untuk disinggahi.

Jadi teruntuk Liverpool, bertandinglah. Bertandinglah dengan perasaan menyenangkan sebagai mana yang kalian lakukan selama ini. Bertandinglah untuk semua jiwa yang secara tulus dan setia membangun angan dan percaya itu akan terwujud malam ini.

“Juergen, yang terbaik untukmu, semua pemain dan semua yang bekerja untuk klub di Kiev. Mari berharap karena semua orang ada di sisimu. Nikmatilah sebuah perjalanan fantastis ini. Jika kita menang, akan terasa luar biasa. Jika belum, jangan kecewa karena kita telah melakukan perubahan besar,” ucap King Kenny, dengan mata menatap lurus ke depan, memancarkan keyakinan tinggi.

Dan untuk Mulyadi (serta rekannya, Fadeloser), enjoy Kiev, maat! Dan pastikan untuk keluar stadion beriringan dengan bus Liverpool yang membawa trofi Liga Champions. Allez Allez Allez!

 

Penulis: Febriansyah Pradana
Credit Foto Utama: Liverpool FC

Disclaimer: Kolom ini juga dimuat di situs resmi Liverpool FC Indonesia

Leave a Reply