KOLOM: QUE SERÁ, SERÁ

Hanya dalam hitungan jam, perjalanan Liverpool FC di Liga Champions Eropa musim 2018/19 ini akan ditentukan, apakah berlanjut atau terhenti sampai di sini. Sadio Mane dkk bakal dihadapkan pada ujian luar biasa sulit ketika harus mencetak empat gol dan mencegah FC Barcelona membobol gawang Alisson Becker jika masih ingin melaju ke babak final, menyamai pencapaian tahun lalu.

Mengapa disebut ujian luar biasa sulit? Pasalnya Blaugrana datang ke Anfield dengan bekal kemenangan telak tiga gol tanpa balas di Camp Nou pada leg pertama tengah pekan lalu. Terlebih, Lionel Messi cs hadir dengan status juara La Liga Spanyol. Terakhir, Liverpool dipastikan tampil tanpa dua andalan lini depan, Mohamed Salah dan Roberto Firmino. Mustahil? Tentu tidak! Liverpool selalu punya kenangan manis dalam hal comeback dan pada akhirnya, que será, será.

Meminjam frasa Spanyol yang kurang lebih berarti, apa yang terjadi, terjadilah, mungkin itu yang dirasakan sebagian pendukung Liverpool pada saat-saat krusial seperti ini. Optimistis, tapi juga realistis. Nada ini juga yang mendominasi konferensi pers Jürgen Klopp jelang laga dinihari nanti.

Ketika ditanya bagaimana atmosfer Anfield jika anak asuhnya mencetak satu gol, Klopp menyatakan betapa besarnya tantangan yang ada dan satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah berusaha sekuat tenaga, langkah demi langkah. “Ya, mari kita berusaha terlebih dahulu dengan segala kemampuan yang dimiliki. Itulah yang kita selalu dan akan terus lakukan,” terang manajer asal Jerman tersebut.

“Selalu ada harapan dan inilah sepak bola. Kami jauh dari kata menyerah, tapi tak berada pada situasi untuk mengatakan, ‘Itu akan terjadi, 100 persen’. Namun sekali lagi, inilah sepak bola dan untuk itu kami berusaha, lewat karakter dari pada pemain,” lanjut Klopp.

The Normal One menyudahi konferensi pers, seperti dilansir situs resmi klub, dengan mengajak seluruh suporter, baik Liverpool maupun Barcelona, untuk menikmati pesta sepak bola lewat atmosfer meriah nan positif seantero Anfield. Sebagai seorang manajer, Klopp memang harus 100 persen optimistis, tapi ada beberapa bagian dalam dirinya yang mengharuskan untuk tetap realistis, tentu bukan berarti pesimistis. Ada jarak lebar dan tegas antara realistis dan pesimistis.

 

MAGIS ANFIELD

Kekalahan 0-3 di Camp Nou bukanlah akhir dari segalanya dan apapun bisa terjadi dalam 90 menit atau lebih di Anfield, tempat sakral nan magis dalam persepakbolaan Eropa maupun dunia. Banyak keajaiban terjadi di stadion legendaris ini. Gol hantu Luis Garcia, comeback versus Borussia Dortmund di Liga Europa, hingga European Night yang selalu tak pernah gagal menghadirkan ‘teror’ bagi lawan.

Satu yang tentu masih terus disimpan di ingatan adalah bagaimana aksi heroik Steven Gerrard dkk pada final Liga Champions 2005 di Istanbul. Kala itu bahkan tim asuhan Rafael Benitez tertinggal tiga gol terlebih dahulu sebelum mampu menyamakan skor dan menang dramatis lewat drama adu penalti. Kala itu, mereka bahkan tak punya waktu 90 menit penuh untuk melakukannya –tercatat setelah tiga gol AC Milan-.

Bagi sebagian fans lain, agaknya klise selalu membandingkan kondisi Liverpool dengan memori luar biasa Istanbul 2005. Namun, itulah bagian dari sejarah klub yang diharapkan selalu menginspirasi setiap generasi pemain di ruang ganti maupun di atas rumput hijau. Bahwa tak ada yang tidak mungkin.

Bahkan pada momen tak memungkinkan sekalipun, Liverpool tetaplah Liverpool. Menyerah tanpa perlawanan bukanlah DNA klub ini. Ratusan desibel suara di Anfield dan paduan semangat juang serta kemampuan Jordan Henderson dkk dipastikan akan menyatu, yang diharapkan bisa kembali membangkitkan daya magisnya tempat ini untuk sekali lagi membantu The Reds keluar dari masa-masa krusial.

 

DUA (TIGA) LAGA UNTUK SELAMANYA

Ya, situasi memang sedang tak menguntungkan The Reds belakangan ini. Kondisi nyaris serupa dialami Liverpool baik di kompetisi Eropa maupun domestik. Jika di semifinal leg kedua Liga Champions, The Reds harus mencetak banyak gol ke gawang jawara Liga Spanyol, di Premier League lebih pelik. Jelang laga terakhir liga akhir pekan nanti, Liverpool masih terpaut satu poin dari pemuncak klasemen sementara sekaligus juara bertahan, Man City.

Gol Vincent Kompany ke gawang Leicester City dinihari tadi memastikan The Citizens kembali ke puncak klasemen sementara. Suka atau tidak suka, peluang Liverpool untuk kembali jadi juara liga sepak bola di Inggris, kini juga ditentukan oleh klub lain. Meski sulit, tim asuhan Klopp berharap lawan terakhir Man City, Brighton & Hove Albion, bisa setidaknya menahan imbang. Ini tentu dengan catatan, sukses mengalahkan Wolverhampton Wanderers di Anfield, 12 Mei 2019 nanti.

Memang, laga versus Barcelona dan Wolves –plus final Liga Champions andai lolos- dipastikan akan menentukan dimana Liverpool finis musim ini. Namun, tidak untuk apa yang telah dipertunjukkan Virgil van Dijk dkk sepanjang musim ini. Satu kata yang sebelumnya jarang didengar, kini mulai akrab di Anfield: Konsistensi.

Jika pada akhirnya (jangan sampai deh!) tak satupun trofi yang diraih musim ini, The Reds tentu berhak menyandang status juara tanpa mahkota, sebutan yang lebih kepada apresiasi mengingat spektakulernya perjalanan Mohamed Salah cs musim ini. Meskipun ya tak sekalipun terbesit untuk jadi juara tanpa mahkota.

Bayangkan saja, 94 poin yang sejauh ini diraih Liverpool di Premier League 2018/19 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Juventus yang sudah juara di Serie A (89 poin), atau Paris-Saint Germain di Ligue 1 (85 poin), dan bahkan Barcelona sendiri (83 poin). Menilik pada statistik kemenangan sekalipun, The Reds hanya sekali kalah di liga, dibandingkan dengan empat yang sudah ditelan The Citizens.

Satu hal yang bisa jadi warisan musim ini adalah mentalitas kuat Andy Robertson dkk untuk berjuang hingga menit terakhir. Laga versus Everton, Tottenham Hotspur, Fulham, Southampton, hingga teranyar Newcastle United jadi bukti bahwa kerja keras pemain terbayar lewat gol yang tak jarang, hadir di menit-menit akhir. Di Eropa, The Reds sudah kembali menunjukkan diri dapat bersaing dengan klub mentereng semisal PSG hingga sukses menjungkalkan calon kuat jawara Bundesliga 1, Bayern Muenchen.

 

THIS MEANS MORE

Inilah yang membuat Liverpool always means more. Apresiasi tak hanya perlu diberikan untuk pemain yang memang berkontribusi besar seperti Alisson, Van Dijk, duet fullback Robbo & Trent, Gini Wijnaldum hingga trisula lini depan, Salah-Firmino-Mane, tapi juga unsung hero seperti Joel Matip dengan overlap-nya, Henderson lewat perubahan signifikan setelah dikritik habis, Fabinho & Naby Keita berkat kegigihan dalam beradaptasi, Milner atas pengaruhnya, hingga Xherdan Shaqiri hingga Divock Origi yang kerap jadi solusi jalan buntu.

Seyogyanya musim ini dinikmati sebagai sebuah pertunjukkan yang menunjukkan progres sejauh mana klub ini berkembang, dari pemburu tiket Liga Champions beberapa musim belakangan, hingga penantang sejati gelar liga. Meski pada beberapa pertandingan terakhir, agaknya kurang cocok untuk kesehatan jantung. Mari nikmati sisa musim yang istimewa ini sembari berharap dan tak henti mendukung agar asa untuk jadi juara tetap ada karena harapan yang membuat kita hidup dan apapun yang terjadi nanti, maka terjadilah. QUE SERÁ, SERÁ

 

“Here is one thing everyone inside Anfield knows, including our opponents. This Liverpool never stops. This Liverpool never quits. This Liverpool gives everything at all times. Whatever happens this Liverpool leaves it all on the pitch and nothing left for regrets. We don’t do ‘if only’. – Jürgen Klopp.

 

Penulis           : Febriansyah Pradana
Kredit Foto     : UEFA

Leave a Reply