shopping-bag 0
Items : 0
Subtotal : £0.00
View Cart Check Out

Jelang Liverpool vs Man. City: Kidung di Pengujung Mendung

Stamford Bridge, 14 April 2009. Perjuangan pantang menyerah Liverpool harus terhenti di tangan Chelsea. Meski sukses mencetak empat gol di kandang lawan, Jamie Carragher dkk tak kuasa menahan laju tuan rumah yang juga mengemas lesakkan dalam jumlah yang sama.  The Reds tersingkir dari ajang Liga Champions Eropa setelah pada leg pertama perempat final di Anfield, harus kalah 1-3.

Setelah malam suram di barat daya London, butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa merasakan kembali atmosfer delapan besar ajang kompetisi sepak bola kasta tertinggi antarklub Eropa tersebut. Malam nanti waktu lokal atau dinihari (5/4) WIB, The Anfield Gank akan menjamu lawan sesama tim asal Inggris, Manchester City, di kandang pada laga leg pertama perempat final Liga Champions 2017/2018.

Jika dikalkulasikan pada leg kedua di Stamford Bridge hingga malam nanti di Anfield, tepatnya sembilan bulan kurang 10 hari, Liverpool berada di bawah bayang-bayang kehebatan masa lampau dengan koleksi lima trofi juara Piala atau Liga Champions. The Reds bukannya tak lagi pernah merasakan European Nights ala pertandingan Liga Champions pada periode itu, tapi dua partisipasi teranyar yakni pada musim 2009/2010 dan 2014/2015 berakhir tragis dengan tidak lolos dari fase grup.

Apabila disandingkan dengan prestasi di kompetisi kasta kedua, Liga Europa sekalipun, rasanya periode tersebut cukup memprihatinkan dengan nama besar Liverpool di jagat sepak bola Eropa. Dari lima penampilan pada kurun 2008/2009 hingga sekarang, prestasi terbesar adalah finalis pada musim 2015/2016 lalu. Itu jika berbicara tentang pencapaian The Reds di Eropa, bagaimana dengan kompetisi domestik? Setelah menjuarai Piala Liga 2012 dan runner-up Liga Primer Inggris musim 2013/2014, Liverpool belum lagi mencapai khitahnya sebagai tim langganan trofi.

 

When you walk through a storm…

Awalan lirik yang sangat familiar dengan suporter Liverpool ini seakan jadi sedikit deskripsi atas apa yang terjadi pada periode tersebut: Badai. Sayangnya badai tak hanya menerpa prestasi The Reds di atas lapangan, tapi juga di luar itu. Mulai pergolakan di tubuh manajemen lewat drama kepemilikan klub, hingga pergeseran status yang mau tidak mau diemban. Imbasnya, arus hilir mudik pemain juga turut berpengaruh.

Tanpa jaminan partisipasi rutin di Liga Champions, The Reds seakan kehilangan magnet untuk menggaet pemain kelas dunia. Untuk klub dengan suporter yang selalu punya ambisi membara, sulit rasanya bersaing jika tak mengandalkan skuat teratas seantero jagat. Alhasil, ini seperti siklus tak mengenakkan yang terus berlangsung beberapa tahun sebelum ini.

Cara alternatif pernah dilakukan dengan mendatangkan pemain yang relatif lebih murah atau bintang dari tim di liga yang tak sebanding dengan Liga Primer Inggris. Contoh pertama bisa dilihat pada transfer Philippe Coutinho. Sementara kedua, mari simak pembelian Luis Suarez dari Ajax Amsterdam. Keduanya tampil luar biasa dan selalu bisa jadi andalan klub. Namun, itu tak berlangsung lama sampai penawaran dari Barcelona datang. Liverpool tak kuasa menahan kepergian pemain yang saat datang belum secemerlang sekarang kadar kebintangannya.

Jaminan prestasi dan tampil reguler di Liga Champions bisa jadi salah satu alasan keduanya. Belakangan, trauma semacam ini juga mulai menjangkit. Pertama pada masa depan Emre Can yang kontraknya akan habis pada akhir musim ini dan dikabarkan tengah menjalin komunikasi intensif –meski belakangan menyanggah- dengan salah satu raksasa Serie A Italia. Sementara selanjutnya tentu saja soal jaminan terkait nasib Mohamed Salah di Anfield. Baru semusim tiba, sudah sering dikaitkan dengan Real Madrid.

 

At the end of the storm…

Terkait fenomena yang sudah dan bisa saja terjadi, klub bukannya tanpa ‘perlawanan’. Selain ketegasan terkait status pemain, satu yang kini tengah dibangun adalah mengembalikan status Liverpool. Malam nanti, kesempatan emas itu hadir. Meski lama tak tampil pada babak perempat final, The Reds memilih pantang gugup. Kidung-kidung atau senandung optimisme kini tak hanya nyaring didendangkan suporter, melainkan juga dari klub.

Kita semua menyadari, malam nanti adalah bagian dari kesempatan terakhir musim ini untuk setidaknya menorehkan sejarah baru atau bahkan menyabet gelar yang lama diidam-idamkan, mengembalikan strata Liverpool ke tempat semestinya berada. Dan ya, kita pun tak menutup mata dengan superioritas Manchester City musim ini. Dengan hanya berjarak satu kemenangan dari gelar juara liga meski musim masih menyisakan beberapa pertandingan, jelas bahwa kualitas anak asuh Pep Guardiola pantang untuk sedetikpun diremehkan.

Akan tetapi, kita Liverpool. Tim, klub, dan keluarga besar sepak bola –seperti yang acap didengungkan- yang tak pernah melihat tantangan sebagai sebuah hal yang patut ditakuti. Ingat juga bahwa The Reds merupakan satu-satunya klub yang bisa mengalahkan The Citizens di liga musim ini. Meski dipastikan tak bisa diperkuat beberapa pemain pilar seperti Joel Matip, Emre Can, dan Adam Lallana, tak menyurutkan semangat untuk bisa mencatatkan kembali hasil bagus dan meringankan langkah jelang leg kedua di Etihad Stadium.

Lagipula, bukankah European Nights terasa lebih spesial di Anfield ketimbang semua tempat di Eropa? Suporter Liverpool selalu punya cara untuk memberikan dukungan yang berimbas pada penampilan heroik tim di atas lapangan. “Kami masih mendengar para pemain membicarakan soal laga versus (Borussia) Dortmund sampai hari ini. Betapa spesialnya pertandingan tersebut, jalan masuk ke stadion, dan apa yang dilakukan malam itu,” ujar fullback kiri, Andy Robertson jelang laga nanti.

Optimisme semacam ini juga dikobarkan manajer Juergen Klopp dengan mengajak Mohamed Salah dan kawan-kawan ‘to make the people happy’. “Saya suka hal semacam ini, luar biasa rasanya. Namun, klub ini sudah penuh akan sejarah dan kami akan memberikannya torehan baru,” terang Klopp. Jika sudah begini, terkadang faktor non-teknis di atas lapangan juga ‘bermain’. Tak lain dan tak bukan adalah dukungan dan doa luar biasa suporter baik di stadion maupun depan layar kaca untuk mengiringi langkah Liverpool untuk melewati mendung dan terus mendapatkan ‘golden sky’.

We’ve conquered all of Europe

We’re never gonna stop

From Paris down to Turkey

We’ve won the f*cking lot

Bob Paisley and Bill Shankly

The fields of Anfield Road

We are loyal supporters

And we come from Liverpool

Allez Allez Allez!

 

Penulis: Pradana
Foto: Reuters

Leave a Reply