Dalam Samar Asap, Teriakan dan Gol, Liverpool Menundukkan Manchester City di Anfield

Liverpool, Inggris – Mereka tiba di pengujung sore, tiga jam sebelum kick-off pertandingan. Mereka mengisi setiap ruang kosong yang bisa ditemukan. Ketika tidak ada ruang kosong tersisa untuk diinjak, mereka memanjat tiang rambu lalu lintas dan dinding.

Arkles Road berbelok menuju Anfield Road dimana aura stadion Liverpool menjulang ke angkasa. Mereka membentang banner, mengibarkan bendera, dan menyanyikan chants.

Dua jam sebelumnya, mereka telah menyalakan flare dan bom asap hingga aroma menyengat bisa tercium hingga ujung Lower Breck Road, setengah mil jauhnya dari stadion. Langit berubah menjadi merah, seakan ada yang sedang terbakar.

Lalu, satu jam sebelum peluit wasit berbunyi memulai pertandingan, momen mereka tiba. Pertama, bus tim Manchester City berbelok ke sebuah sudut dan memulai perjalanan mendebarkannya menuju Anfield perlahan, dipandu oleh puluhan polisi. Asap merah mengepung udara. Kembang api dinyalakan. Pyro tak mau kalah membelah kabut. Botol-botol dan kaleng bir beterbangan, tak sedikit yang menyambar sisi bus. Tiang lampu lalu lintas itu bergema, dinding-dinding di sekitar mengeluarkan suara. Perang pecah.

Kemudian muncul beberapa menit penuh kedamaian, sebelum bus Liverpool datang memecah suasana. Lebih banyak lagi asap, flare dan riuh suara, namun kali ini berbeda. Penuh dengan pujaan terhadap mereka yang sedang lewat di hadapan. Semua berjalan cukup singkat. Bis segera memasuki ketenangan stadion. Pekerjaan selesai. Bendera diturunkan dan flare dipadamkan. Namun, riuh itu menolak padam.

Sejak Liverpool dipastikan bersua Manchester City pada hasil undian perempatfinal Liga Champions Eropa, jauh sebelum pertandingan dimulai, beberapa menit penyambutan yang krusial ini, sudah menjadi perdebatan banyak pihak sebagai faktor yang misterius dalam laga kedua tim ini.

City jelas terlihat lebih superior dari Liverpool. Posisi yang berada di puncak klasemen Premier League di mana mereka mungkin akan segera dinobatkan menjadi juara, adalah bukti konklusif atas hal ini.

Tapi tim City asuahan Pep Guardiola belumlah terikat secara emosional dengan Liga Champions, sebagaimana Liverpool. Tim ini tidak memiliki gelimang sejarah Eropa. Tim ini juga belum memiliki kekebalan akan atmosfer yang sedemikian rupa serta kerapuhan risiko tingkat tinggi yang bisa dihasilkan kompetisi ini dalam banyak hal.

Bagaimana tim ini bisa bertahan di bawah lampu dan lorong-lorong di Anfield secara teori menentukan bagaimana jalannya pertandingan. Dan ujian ini sudah dimulai sejak di sudut Arkles dan Anfield Road. City tentu bukannya senang dengan keadaan ini. City sudah mengajukan kekhawatirannya ke pihak polisi Merseyside tentang risiko perusakan. Namun bukannya membatalkan penyambutan, polisi hanya mengganti rutenya dengan harapan bisa mengontrol.

Semua rencana tidak berjalan dengan baik. Lemparan-lemparan itu tetap merusak bus Manchester City  hingga harus menggantinya untuk perjalanan pulang. Bus yang mereka gunakan untuk berangkat sudah rusak dan tidak memungkinkan untuk kembali pulang dengan menggunakan kendaraan yang sama. Juergen Klopp, manajer Liverpool, langsung meminta maaf atas perilaku sejumlah fans klubnya, dan pihak klub juga langsung mengeluarkan pernyataan resmi. Polisi menyatakan akan menindaklanjuti lewat kiriman video untuk bisa mengidentifikasi pelakunya.

Dalam konteks itu, semua memang terlihat salah untuk membesar-besarkan momen penyambutan itu, dengan mengabaikan bus yang rusak hanya untuk suara-suara pengisi stadion. Namun sama halnya dengan ketidakakuratan fakta jika mau menyamakan perilaku penyambutan bus lewat karakter ‘kelewatan’ perilaku fans. Penyambutan bus seperti ini sejatinya sudah cukup umum di Eropa. Real Madrid biasanya disambut oleh kumpulan massa yang lebih besar untuk pertandingan liga Champions-nya. Ada jauh lebih banyak kamera yang merekam, dan ini sudah 2018. Bahkan pemain dari dalam bus juga melakukan hal yang sama. Merekam dari dalam mereka yang merekam dari luar.

Pun demikian, ini tidak membenarkan perilaku kekerasan yang terjadi. Sepak bola sekarang terlalu ilmiah dan terlalu profesional untuk hanya dinilai berdasarkan perilaku fans dengan satu logika: para pemain tuli terhadap cemoohan, terlalu kebal terhadap intimidasi.

Atmosfer legendaris Anfield mungkin tampak memudar beberapa tahun terakhir. Dan tim seperti Manchester City ini sudah berkunjung ke banyak tempat. Naples, Sao Paulo, Bernabeu, Camp Nou, hingga Allianz Arena milik Bayern Muenchen. Tapi Anfield tidak akan pernah gentar, tidak peduli berapa orang yang berkumpul di Arkles Road.

Korelasi memang bukan penyebab, tapi adalah sebuah kekonyolan jika memisahkan pengaruh atmosfer dari hasil yang ada. Manchester City, tim terbaik di Inggris dan mungkin di Eropa, runtuh, kalah 3-0 disapu Liverpool di babak pertama yang luar biasa, dan mampu menangkal ketegangan di babak kedua.

Guardiola menyangkal bahwa timnya terpengaruh atmosfer Anfield. “Senang rasanya merasakan atmosfer Liga Champion di Anfield”, ujarnya. Tapi kenyataannya tentu jauh dari itu. Banyak hal aneh terjadi di stadion ini jika terkait kompetisi yang satu ini. Thomas Tuchel berkata setelah timnya, Borussia Dortmund, kalah di Liga Europa dua tahun lalu, “Rasanya seakan para suporter tahu apa yang akan terjadi.”

City melakukan semua yang mereka bisa untuk mengabaikan suara berisik itu. Memaksa Liverpool bermain menghadap The Kop di babak pertama, bukan pada paruh kedua. Kemudian membiarkan beberapa menit pertama menguasai bola dengan harapan dapat mendiamkan suara suporter. Tidak ada rencana yang berhasil. Anfield berisik sepanjang malam. Suporter terus menyemangati Liverpool ketika menyerang, terutama dalam “kutukan 15-20 menit” yang menurut Guardiola membuat timnya menjadi korban. Suara berisik yang sama terus menyemangati tim di babak kedua, di mana mereka berhasil menjaga City tetap tidak bisa berbuat banyak.

Tentunya inilah mengapa fans akan terus datang ke pertandingan dan bernyanyi. Berteriak dan terus menjerit. Semua dengan harapan yang mereka lakukan ada dampaknya, baik untuk tim sendiri maupun tim lawan.

Dan memang semua terbukti. Sepak bola sekarang memang lebih ilmiah, lebih profesional dan tampak meremehkan hal yang tidak terlihat. Namun Anfield sekali lagi membuktikan bahwa terkadang kekacauan bisa saja terjadi namun semua hal bisa diraih dan hal-hal logis tidak selamanya perlu terjadi. Itu mengapa mereka berkumpul, berjam-jam sebelum kick off, ketika di sudut Arkles dan Anfield Road… Untuk melakukan yang mereka bisa.

 

Alih bahasa: Ayunda Zikrina
Foto: Carl Recine/Reuters

Penulis asli: Rory Smith, New York Times, dengan judul “In Blur of Smoke, Jeers, and then Goals, Liverpool Humbles Manchester City at Anfield.” (Publikasi 4 April 2018)

Leave a Reply