Betapa Rumitnya Lini Tengah Liverpool

Memahami Betapa Rumitnya Lini Tengah Liverpool

Adalah tidak mudah untuk masuk skuat lini tengah tim manapun yang diasuh Jürgen Klopp. Ini simpul awal dari skema luas yang dikembangkan oleh sepak bola ala Klopp. Lini tengah bagi Klopp adalah “ruh” yang memberi kehidupan bagi semua lini Liverpool. Maka, jangan heran jika proses Klopp untuk membeli dan mendayagunakan gelandang dalam skuatnya sungguh tidak mudah dan cenderung rumit.

Rumit disini bukan dibuat-buat, tetapi filosofis yang dianut sepakbola Klopp memang sangat idealis dan memerlukan kemampuan seorang gelandang yang komplet untuk memenuhinya. Sehingga dalam prosesnya sampai seorang pemain mampu masuk dalam skuat utama Liverpool adalah gelandang yang cerdas atau kalau Klopp menginginkannya, seorang pemain pun bisa diubah posisi dan perannya dari yang dilakukan si pemain selama ini di klub lain.

Kali ini saya ingin menelusuri jalan berliku sampai nanti kita paham mengapa musim ini ada perbedaan penampilan yang kita lihat dari The Reds.

Lini tengah Liverpool memang mengalami dinamika yang tidak sederhana. Kehilangan Philippe Coutinho, lalu muncullah Alex-Oxlade Chamberlain. Tetapi Adam Lallana cedera, dan harus meringkuk lama dalam ruang perawatan. Tidak lama kemudian Chamberlain juga ikut mendekam dalam ruang perawatan.  Kita tahu, kehilangan demi kehilangan yang dialami Klopp tidak terlalu dia keluhkan, tetapi gambar permainan Liverpool jelas terlihat berbeda. Lalu Klopp mengubah taktik dengan pemain yang ada. Maka ditemukan lah lini tengah Liverpool yang pas berwajah Jordan Henderson, Georginio Wijnaldum dan James Milner.

Ketiga penggawa ini ditingkatkan akselerasi serta perannya di lapangan. Hendo menjaga keseimbangan dalam bertahan, Gini menjaga keseimbangan dalam merebut bola dan menahan bola sebelum disebar ke berbagai lini, sementara Milner bebas bergerak untuk menyajikan bola-bola ajaibnya ke lini depan. Di lini depan sendiri, Klopp tidak bersikap kaku dan ajeg. Manajer asal Jerman ini meminta ketiga lini depan bergerak bebas, “saat menyerang kamu bebas kemanapun dan dari sudut menapun kamu mau menciptakan gol. Tetapi begitu kehilangan bola, kamu wajib kembali ke posisimu dan amankan area kekuasaanmu serta bantu teman terdekatmu untuk memastikan bola kembali aman dalam penguasaan kita”. Begitulah kira-kira instruksi dasar Klopp.

Karena rotasi bola dan pemain berjalan lancar dan memikat, lini depan pun tampil tajam musim lalu. Gol-gol tercipta dengan peragaan yang mengagumkan. Ini kisah musim lalu.

 

Musim Baru, “Masalah” Baru

Memasuki musim 2018/2019 Klopp mencari gelandang yang mampu memikul peran Cou atau peran yang ditinggalkan Lallana dan Chamberlain. Cou dan Chamberlain memiliki sedikit kesamaan yaitu memapu menerobos barikade sistem pertahanan lawan dan jika memungkinkan langsung melepas sepakan jarak jauh untuk mengoyak gawang lawan. Chamberlain lebih istimewa lagi karena dengan fisik dan poweryang tangguh, gerakannya mampu menyedot sistem lawan pertahanan untuk mengikutinya.

Maka karena Chambo cedera, Klopp pada akhirnya membeli pemain yang paling masuk akal untuk dibeli dan diatur untuk kebutuhan lini tengahnya. Kita abaikan Nabil Fekir yang kita asumsikan “tidak masuk akal” untuk dibeli, selain sangat mahal juga isu rekam jejak cedera lututnya menjadi bagian kegagalan merekrutnya. Kita abaikan itu.  Sekarang kenapa Klopp akhirnya membeli Fabinho dan Xherdan Shaqiri ditengah kehadiran Naby Keita yang juga sudah bisa masuk skuat Liverpool per musim panas lalu.

Fabinho memiliki passingakurat, mampu menjadi gelandang bertahan yang baik, visi membagi bola dan membuka ruang juga sangat bagus. Artinya Klopp tinggal mengatur peran dan posisi sesuai skema yang dikembangkan Klopp. Dalam kenyataannnya, Fabinho belum bisa bermain konstan. Pemain timnas Brasil ini juga belum mampu sampai ke titik level kecepatan yang dibutuhkan Klopp atau level kecepatan pemain lain, serta Fabinho karena pemain baru, belum memiliki chemistrydengan gelandang lainnya. Artinya Klopp masih belum akan bebas menggunakan eks AS Monaco itu secara tetap dari pekan ke pekan. Sementara Keita yang diawal musim bermain bagus dan berperan besar bagi permainan Liverpool, juga mengalami kemunduran di beberapa gameterakhir sebelum cedera. Pergerakan Keita adalah kurang cepat, aklerasinya yang terbilang masih lamban, baik bola maupun tubuhnya. Walau akurasi passingdan umpan-umpan pendeknya sangat luar biasa.

Bagaimana dengan Shaqiri? Shaq adalah eksekutor yang dibutuhkan Klopp. Daya jelajahnya lumayan bagus. Tetapi Shaq masih dalam proses kearah sistem bertahan yang dibutuhkan seorang gelandang ala Klopp. Ketika Shaq kehilangan bola dan diserang balik, Shaq selalu akan tertinggal. Ini butuh proses waktu. Dan itu pula yang menyebabkan Shaq juga belum akan masuk skuat inti di setiap pertandingan. Nah, sekarang bagaimana dengan kondisi Hendo, Gini dan Milner.

Hendo memang selalu ditugaskan untuk menjaga keseimbangan lini jantung pertahanan, keseimbangan diposisi ini ditugaskan kepadanya. Cara yang paling aman bagi Hendo melakukan tugas itu adalah dengan menahan bola dan melakukan back passingvertikal dan horizontal sehingga dalam reposisi pemain berjalan, bola tetap dalam kekuasaan tim. Tetapi masalahnya adalah Hendo tidak berpikir cepat dengan mengambil keputusan yang cepat dan tegas bagaimana bola itu harus bergerak ke depan setelah reposisi berjalan dalam sepersekian detik. Yang terjadi adalah Hendo berperan besar memperlamban daya dobrak bola dan daya serang dari lini tengah. Padahal mantan andalan Sunderland itu adalah pemain yang diharapkan mampu melakukan passingjarak jauh atau passingterukur dari wilayahnya kearah depan.

Karena Gini sudah sangat repot mengamankan wilayah tengah yang merupakan areal paling sibuk lalu lintasnya di lapangan. Milner sendiri musim ini masih sangat baik jika dalam kondisi prima. Tetapi ketika lawan memiliki keunggulan passingdan pengusaan bola, maka ilmu kanuragan Milner juga lumpuh karena tidak akan mampu lagi mengikuti alur bola lawan yang bergerak cepat.  Kita paham ini soal usia yang tidak lagi ideal. Dia masih kuat ketika menguasai bola, namun ketika harus merebut bola dan menjaga arealnya, usia memang sulit direkayasa.

Kali ini Lallana.  Setelah sembuh dan saat ini sudah aktif bermain ternyata sama sekali kehilangan “sentuhan ajaib” nya sebagaimana kemampuannya sebelum Ia cedera. Sampai disini kita mulai paham betapa rumitnya masalah yang tersembunyi dari skema lini tengah Liverpool. Klopp sesungguhnya bukan butuh Buvac atau si fulan manapun, tetapi dia perlu pemenuhan ekspektasi tentang bagaimana peran seorang gelandang dalam sepakbolanya.  Gelandang adalah kreator, pemegang kendali bertahan dan menyerang serta mengamankan keseimbangan di lini tengah.  Tiga peran ini tidak mudah.

Mengapa musim ini lini serang sedikit tumpul dan berbeda dari musim lalu?  Dalam pandangan Klopp tidak sepenuhnya ini masalah lini depan.  Itu sebab, Klopp tidak pernah menyalahkan Mohamed Salah dan Sadio Mane atau Bobby Firmino soal minimnya gol yang dicetak. Dalam pandangan Klopp, minimnya kreativitas para gelandang membuat lini serang The Reds mudah di eksploitasi. Musim lalu, lini serang ini sulit di markingkarena dinamika pergerakan bola dan pemain dari lini tengah begitu eksplosif, sulit menjaga lini serang yang tiba-tiba jadi bebas tanpa kawalan. Ini kan karena kreativitas lini tengah.

Mengapa musim ini ini jadi masalah krusial? Karena jarak lini tengah dan lini depan Liverpool jadi mudah di marking. Jaraknya tidak ideal. Cara bermain Reds Star Belgrade saat mengalahkan Liverpool tengah pekan lalu di fase grup Liga Champions adalah contoh paling anyar “Ilmu Jürgen Klopp” musim lalu yang diadopsi dan menjadi alat pemukul ke tubuh Liverpool. Gol kedua Reds Star juga khas Chamberlain.

Membeli pemain baru belum tentu menjadi jalan keluar yang masuk akal. Karena deretan lini tengah Liverpool sudah cukup “gemuk” jumlahnya. Hanya saja Klopp harus kembali mengkaji ulang kepada para pemain, sambil berjalan menyelesaikan musim ini untuk meneguhkan kembali peran para pemain. Evaluasi ini penting agar Klopp bisa memastikan skuad lini tengah.  Proses mematangkan Shaq dan Fabinho serta Keita. Disisi lain kita berharap Chamberlain bisa punya keajaiban, dan kembali masuk skuat sebelum musim ini selesai. Perbaikan yang terlihat dari musim lalu adalah bahwa ketika lini gelandang bermain tak prima, tidak serta merta berpengaruh besar pada lini pertahanan. Konsistensi Joe Gomez serta Virgil Van Dijk dan hadirnya Alisson Becker di bawah mistar gawang memastikan tingkat kebobolan Liverpool membaik secara signifikan.

Inilah yang terjadi dengan lini tengah Liverpool saat ini, kita yakin Klopp sudah paham hal ini, tetapi adalah manusiawi juga jika manajer butuh waktu dan pemain juga butuh waktu. Tetapi menyerah dan mencari-cari alasan penyebab dari sebuah kekalahan adalah tidak fairdan cenderung mengkerdilkan nama besar Liverpool.

Maka kita yakin bahwa Klopp punya ilmu untuk mengatasi ini semua tetapi Klopp butuh pula kecerdasan para pemainnya. Inilah jalan yang berliku itu. Itu kerumitan yang tidak sederhana. Dan selayaknya fans perlu belajar ikut memahami kerumitan klub tercinta ini.

Salam.

 

Koez Arraihan

10 November 2018

1 Response

Leave a Reply